Dulu, saya sempat menempati sebuah pesantren, namanya Al-Ihya yang berlokasi di Bogor. Saya masuk sebagai murid pesantren kilat selama satu bulan untuk mengisi waktu libur kenaikan sekolah dari SMP ke SMA. Pada usia saat itu di pikiran saya tidak pernah ada hal lain selain belajar, belajar dan belajar sesuatu yang baru.
Suatu hari saya mendapatkan materi tentang keajaiban Shalat Malam / Tahajjud, yang disebutkan bahwa orang yang melakukan shalat tahajjud akan bercahaya wajahnya, dan saat itu saya menganggap hal ini bersifat konotasi saja dan butuh penafsiran yang lebih mendalam.
Tapi entah kenapa perasaan saya selalu mengartikan materi tersebut sebuah hal yang sifatnya nyata, bukan konotasi. Pada saat itu saya tidak berpikir panjang selain memperhatikan setiap wajah-wajah yang saya temui untuk melihat “mana cahaya-nyaaaaaaa ??”
Setiap malam para santri selalu dibangunkan untuk Shalat malam dan setelah itu disuruh berdzikir dan setelahnya saya selalu memperhatikan orang-orang, “apa bedanya ??, mana cahanya-nya ???”
Minggu pertama berlalu dengan kebingungan dengan materi Ustadz yang satu itu, rasa skeptis mulai menghantui dan ingin rasanya saya menanyakan hal ini secara langsung tapi selalu saya urungkan karena banyaknya materi lain yang harus saya pelajari takut ketinggalan.
Minggu kedua, saya terus dan tetap penasaran tentang materi cahaya pada wajah, sepertinya materi ini tidak kunjung selesai saya tafsirkan sendiri dibandingkan materi lain yang relatif mudah dipahami.
Sampai pada akhir minggu ke-empat di pesantren, saya merasa sangat skeptis bahwa materi pertama Ustadz itu bukan merupakan penerjemahan harfiah, namun saya tidak putus asa dan berpikir “mungkin harus ditafsirkan lebih lanjut atau ada catatan kaki yang menjelaskan konotasinya”. Sempat terbetik untuk mencari jawabannya di rumah nanti karena hari itu adalah hari terakhir dari pesantren kilat selesai dan para santri se-angkatan pulang ke rumahnya masing-masing.
Hari-hari di pesantren telah lewat dan pada hari pendaftaran ulang sekolah, saya mendatangi SMA Cianjur yang alhamdulillah saya diterima pada sekolah favorit itu.
Awalnya saya tidak sadar…
Tapi akhirnya saya paham maksud ucapan Ustadz tersebut…
Saat itu saya sedang berjalan menuju sekolah yang baru dan saya tidak melihat cahaya apa-apa pada banyak orang yang saya temui…
Dan itu semua logis….
Karena di pesantren, semua santri melakukan shalat malam yang artinya saya telah melihat mereka dalam kondisi wajah yang sudah bercahaya sehingga tidak ada bedanya karena saya belum pernah melihat mereka semua dalam kondisi tidak melakukan shalat malam.
Tidak ada hal lain yang saya pikirkan saat itu selain mentertawakan diri saya sendiri.
Hikmah dibalik kejadian ini : “Apabila kamu ingin mengajarkan atau memberi tahu ilmu, berilah selalu contoh !”
{ 0 comments }

