Moksi yang hilang

2010, sudah 25 hari beranjak semenjak hari tahun baru dan pada hari ini saya menyadari diri saya yang kehilangan arah. Perasaan mengerjakakan sesuatu yang hampa, makan hampa, hampir semua kegiatan saya lakukan demi Allah saja, tanpa mempedulikan apakah saya senang atau tidak meski terkadang saya menjadi lelah dan meninggalkan semuanya.

Saya bercita-cita untuk menjadi seorang penemu, pada bidang IPTEK, saya ingin melakukan riset mengenai management pengetahuan yang terdifusi, semacam artificial intelligence yang bisa terus belajar sendiri, tapi cita-cita itu terlupakan oleh rintangan hidup yang acapkali berusaha menempatkan saya pada kondisi didalam syarat, semisal apabila saya ingin memasak sup ayam maka saya harus membeli ayam, sayuran, dan bumbu ke pasar. Tapi tidak semudah itu !, saya dihimbau untuk mempelajari ayam mana yang bagus, sayuran mana yang baik, dan bumbu mana yang enak, dan saya juga harus menyiapkan uangnya yang saya tidak punya !, sehingga saya harus mencari uang terlebih dahulu. Untuk mencari uang saya harus bekerja, dan untuk bekerja maka saya harus mencari lowongan yang cocok antara kemampuan dan jabatan. Untuk masuk kerja saya harus terlebih dahulu melakukan testing, wawancara, dan probation, sampai akhirnya saya diposisikan menjadi pegawai tetap.

Dan…….. saya melupakan niat saya yang pertama : Makan sup ayam.

Menurut Richard Brodie, perhatian adalah separuh dari kesadaran, tapi menurut saya lebih dari itu. Entah bagaimana dunia dan masyarakat telah menciptakan alat-alat untuk cenderung melupakan manusia dari tujuannya dengan cara menginterupsi perhatian dan membuat perhatian benar-benar tertuju melupakan tujuan utama dengan suguhan kenyamanan terprogram dan/atau tujuan utama baru. Manusia hidup 24 jam sehari, 8 jam untuk tidur, 8 jam untuk bekerja dan 8 jam untuk melakukan hal lain. Intinya manusia normal hanya memiliki 8 jam waktu untuk membuat dirinya lebih mulia, namun apa yang terjadi ?, sedikit demi sedikit perhatian manusia diinterupsi dengan berbagai situasi basa-basi, perjalanan, tontonan, birokrasi, dan lain sebagainya.

Waktu manusia habis dalam perjalanan kerja sepanjang hari, habis oleh tontonan yang berulang kali dilihat tanpa menghasilkan buah pikiran baru, interupsi telepon genggam yang lucunya dapat memposisikan seseorang yang menelepon menjadi lebih penting ketimbang  yang sedang diajak bicara.

tapi syukurlah, kesadaran saya pada hari ini telah kembali…

Panjang umur & awet muda

Saya kurang begitu ingat waktunya, tapi sekitar seminggu yang lalu (15 November), waktu itu saya bangun pagi banget, subuh-subuh sekitar jam 4:00,  perasaan saya waktu itu terasa enak dan nyaman, tidak seperti biasanya yang ogah-ogahan bangun pagi. Seperti biasa saya langsung ambil air wudhu, kemudian sembahyang shubuh setelah suara adzan berhenti, dan saya mendapatkan 2 buah ilham setelah saya beribadah.

Ilham yang pertama berupa aturan bagaimana seseorang memperoleh umur yang panjang, dan yang kedua bagaimana aturan seseorang untuk hidup awet muda.

Singkat saja, semuanya berawal dari sedekah, memberi, tentunya pemberian yang ikhlas, bukan terpaksa atau dipaksa.

Ada dua jenis hal yang bisa diberikan oleh manusia, yakni materi dan spiritual, gampangnya materi = ngasih duit, sedangkan spiritual = ngasih ilmu.

Tuhan memiliki aturan, yakni memberikan materi kepada manusia lain yang sedang membutuhkan maka Insya Allah akan memanjangkan umur manusia tersebut,, koq bisa ?, jawabannya karena Tuhan merasa bahwa apabila dia segera memanggil orang tersebut (mematikannya), maka akan banyak rejeki orang lain yang terputus.

Aturan yang kedua, apabila seorang manusia dengan ikhlas memberikan ilmu kepada manusia lain, maka Insya Allah akan dibuat awet muda, alasannya karena Tuhan ingin dia tetap meneruskan kegiatannya, karena seseorang tersebut pastinya membutuhkan penampilan yang menarik untuk didengar, dipahami, dilihat, maka dibuatlah orang itu awet muda.

Saya belum menemukan contoh kongkrit (nyata) untuk orang yang suka memberi materi = panjang umur, tapi yang saya tahu untuk contoh yang memberikan ilmu itu ada, guru SD saya, dulunya guru SD itu pernah ngajarin nyokap, dan sampai nyokap kawin punya anak = saya, saya-pun diajarin sama guru itu, jadinya guru 2 generasi tuh. Hebatnya guru itu penampilannya awet muda meski umurnya sudah mau kepala 6, dan itu terjadi bukan pada satu atau dua guru saja, tapi ternyata banyak guru yang saya kenal tampil awet muda.

Ada komen ?

Jualan yang aneh

Bulan lalu saya melakukan riset barang di pasar wholesaler/dropshipper, dan akhirnya menemukan satu situs yang barangnya bisa dibilang OK dan harganya murah. Buka-bukaan aja deh, barangnya berupa tas, harganya $12.25, yang saya pajang di eBay $60,  WOW !, koq bisa mahal banget ?

begini ceritanya……

Harga tasnya $12.25

Yang mau belinya dari Greece, ongkos pengiriman : $22.45

Biaya packing : $10

jadi ditotal $12.25 + $22.45 + $10 = $44.70

ehhhhh……., masih ada fee eBay + fee PayPal sekitar $5, jadi $44.70 + $5 = $49.70 = $50

Buset, dari satu tas jadinya ngambil untung $10, padahal dari transaksinya $60, potongan dimana-mana, hahahaha

Change

Today, something change in me, things that born after someone repeat an activity for certain time.

It’s start with money table, which constantly bothering me for past this week. The problem is the income that I earn are coming from niche thing, not politically continue to flow,  if I mean my self become overdevelop, yeah I know it’s still next 20 or 30 years ahead but who knows ?

The main reason of my thought is condition “of how if  I fall ?” and I can’t just calm down taking answer “relax dude, you just mind thing that not yet happen….”, but still, the question is “what if that happen ???”

The question became forked in two ways, and both ways continue to make another path, surrounds me, it’s like force to not believe thats moon was up there. Have you ever been believe in something but forced to not believe ?, so painful , pervade,  and sometimes forced to get used to it.

Saya seringkali melihat orang disekitar saya memahami Agama hanya sebagai ritual, trend, atau bawa’an sejak lahir yang di titah-kan kepada dirinya tanpa adanya keinginan sendiri untuk mengeksplorasi kebenarannya dan beberapa orang berpendapat “semua Agama sama, mengajarkan kebaikan”.

Banyak juga yang menganggap Agama hanya bullshit, sebab tidak bisa dibuktikan secara Ilmiah, misalnya kehidupan setelah mati, mau gimana bukti’innya ?, mati dulu ?

Trus gimana donk ?

Nah…….., saya punya contoh lucu analogi yang mirip dengan hal ini.

Memandang hal ini mirip seperti Pria yang memilih calon Istri untuk dinikahi. Bagaimana Si Pria tahu kalau calon Istrinya perawan ??, dicoba dulu ???, HAH !!???

pastinya ENGGA DONK !

tapi bagamana cara tahunya ?, nah…… disinilah perjalanan seorang manusia yang berawal dari sekedar “percaya” untuk berjuang menemukan “keyakinan”.

Well, kita tidak bisa begitu saja menanyakan “Eh kamu perawan gak ?”, sama seperti orang yang menanyakan “Eh ini Agama bener ga ?”, melainkan kita harus memulai dari informasi terkecil yang ada, seperti siapa orang tuanya, silsilahnya, sekolahnya, kehidupan kesehariannya, temannya, dll. Agama juga sama begitu dimulai dari sejarahnya, pembawanya, konsep ajarannya, dll.

Misalkan si calon Istri hobi-nya clubbing, dugem sampai pagi, suka bercengkrama dengan banyak pria, yaaaaaaa…… bukannya saya men-judge wanita ini sudah tidak perawan lagi, tapi hal ini sudah menurunkan penilaian saya, dan saya akan mencari wanita lain yang lebih baik kredibilitasnya.

Sejujurnya saya tidak bisa menuliskan semua faktor pendukung yang bisa dilakukan untuk menguji apakah seorang wanita perawan atau tidak, menguji apakah suatu Agama benar atau tidak, karena blog saya ini pastinya tidak akan muat untuk menuliskan semua materinya.

Intinya : Jalan hidup setiap manusia berawal dari “Percaya” menuju “Yakin”

Ps.Anda masih ragu ?, apakah anda yakin kalau ibu anda adalah ibu yang melahirkan anda ?, mengapa anda begitu yakin sementara anda tidak pernah menyaksikan anda dilahirkan ? Pastinya anda meyakininya dari aspek informasi yang ada pada diri anda sendiri seperti dagu-nya mirip ibu, matanya mirip ayah, kulitnya sawo matang seperti ibunya, dll. Anda yakin kan ?, atau anda masih ragu ?, masih ragu dengan Agama anda ?, berjuanglah untuk Yakin, tidak hanya sekedar Percaya.

Dua fundamental Persepsi

Hari ini saya akan menuliskan dua analogi fundamental mengenai “Persepsi” :

  1. Bagaimana lampunya bisa menyala kalau listriknya kurang ?
    Para ahli berpendapat bahwa bagian otak manusia modern yang bekerja hanya 5-6% dari kapasitas keseluruhan, yang artinya sisa dari 100-6 = 94% diatur oleh alam bawah sadar, tapi apakah ini fakta ?, atau hanya kira-kira saja? Sejujurnya saya berpendapat bahwa otak kita tidak bekerja banyak karena tidak dinyalakan, analoginya sama seperti lampu. Kalau 1 lampu butuh 50 watt, maka supply untuk menyalakan 10 lampu jelas harus 500 watt, begitu pula otak kita, kalau ingin bekerja lebih banyak, seharusnya  diberi konsumsi lebih banyak protein, dha, salmon oil, dll, karena sejujurnya bagaimana otak bisa bekerja tanpa energi ? seperti mobil tanpa bensin.
  2. Saya tahu karena saya gunakan
    Coba bayangkan apabila semenjak lahir kita tidak pernah melihat sinar apapun, apakah kita akan percaya bahwa kita punya mata ?, well….., maksud saya…… saya hanya berpendapat mungkin kita memiliki pengindera’an lain selain mata, peraba, penciuman, perasa dan pendengaran, hanya saja kita sudah “dibutakan” untuk tidak bisa menggunakannya.
    Para ahli sepakat akan adanya indra ke-6, dimana seseorang memiliki persepsi tentang sesuatu yang tidak dimiliki orang lain, contohnya pemain basket, yang memiliki kemampuan untuk melempar sebuah bola agar tepat masuk kedalam keranjang, yang menjadikannya dia bisa “melihat” ke arah mana bola akan jatuh apabila dia mengamati orang lain melempar bola. Contoh lain misalnya si pemain basket tersebut terbiasa mendengar langkah kawannya yang bergerak di belakangnya, sehingga tanpa perlu dilihat dia bisa yakin mengoper bola, hebatnya dia bisa tahu pasti perbedaan langkah lawan dan langkah temannya. Yang saya yakini kemampuan persepsi ini terjadi karena seringnya latihan berulang-ulang, sehingga semakin memantapkan ketepatan si pemain basket baik melempar bola atau dimana posisi temannya hanya dari mendengar suara langkahnya.

Intinya :

Kalau kamu ingin menjadi lebih baik, makanlah selalu makanan yang bergizi dan bekerjalah secara tertib dan konsisten, karena kedua hal itulah yang akan membuahkan persepsi didalam diri manusia. Buah yang hanya bisa dipetik oleh manusia yang sehat dan suka bekerja keras.

ps. untuk beberapa orang, mungkin ini bisa menjelaskan mengapa hidupnya tidak pernah berubah, membosankan dan begitu-begitu saja dari hari ke hari.

Conduct Business Yang Aneh

Saya mau cerita tentang hidup saya di dunia pararel lain,

Di dunia itu saya hidup sebagai orang miskin, hidup mengandalkan kios jualan di pasar, kalau mau apa-apa harus kerja keras dan cari pekerjaan tambahan.

Suatu hari saya mendapatkan sebuah kupon fitnes gratis di Fitness First, karna saya orang miskin, jadinya saya tidak mau kehilangan kesempatan ini…, mumpung gratis gituloh.

Saya coba dari mulai kegiatan senam, tread mill, sepeda, dan spa tapi jujur 300 ribu sebulan untuk biaya fitnes terlampau mahal untuk orang miskin seperti saya, namun positif saya benar-benar menyukai kegiatannya, ingin jadi member, jadi bagaimana donk ?,

Setelah memutar otak, saya menemukan sebuah cara !, dan akhirnya saya join fitnes tersebut, 300 ribu sebulan, oke.

Setiap pagi saya membawa makanan dan minuman dari rumah, pergi ke tempat fitnes, siangnya saya berjualan di pasar, dan sore-nya setelah berjualan, saya fitnes lagi dech, ga mau rugi sudah bayar 300 ribuw, ehehehe.

Penasaran darimana 300 ribu itu saya tutupi ?

Begini….

Setiap pagi saya selalu membawa sebungkus nasi dan sebotol air mineral yang saya makan di tempat fitnes, botol minumanya kan kosong, naaaaaaah, saya selalu isi dengan sabun atau shampoo gratisan di kamar mandi, supaya tidak terlalu mencolok, pagi saya bawa sebotol sabun dan sorenya sebotol shampoo, kemudian saya menjualnya di toko saya dengan harga sangat murah @10 ribu saja, dan LAKU !, hahahahah !!!

Sebulan penuh 30 hari, saya berhasil menjual semuanya, 60 botol = 600 ribu, bukannya rugi bayar fitnes, tapi malah untung !!!!!!, nilai lebihnya lagi saya tidak perlu mandi di rumah yang membuat rekening air jadi berkurang, dan badan saya jadi fit, berbentuk, sehat :)

licik bener ya minter-minterinnya, malu sih ngakuinnya, mau gimana lagi, ya itulah gue.

Oke oke oke……, kembali ke dunia ini….., sebenernya hal ini juga bisa diterapkan di dunia ini sih, tapi saya punya cara lain untuk dapetin 600 ribu tanpa pakai cara yang tadi, cuman…… saya mencoba untuk mencontoh teknik ini ke dunia ini, bisa saja saya membawa botol kecil setiap pergi ke McDonald untuk mendapatkan sausnya, atau setiap ke hotel, saya bawa sendal, dan sikat giginya, hahaha, tapi masih perlu dipikirkan secara aplikatif gimana balik modalnya.

Untuk contoh besarnya, saya belum menemukan yang bisa dijadikan “Real Conduct Business”, dan seandainya ketemu-pun pastinya ga saya kasih tahu donk, dipraktekin sendiri dulu, hahaha.

Virus Akal Budi

Hari minggu kemarin, saya sempat jalan-jalan di Pasar Festifal, niatnya mau creambath karna rambut saya yang gondrong ini jadi jelek kalau belum dikasih gingseng. Karena stylist yang biasa megang saya lagi megang orang lain, jadinya saya nunggu sambil jalan-jalan muterin tu pasfes trus nemu buku lama, judulnya “Awas! Virus AkalBudi” GANAS (JANGAN BACA!). Begitu judulnya, ga banget yak, masak buku dilarang baca, hahaha, pinter-pinteran aja yg ngarangnya biar penasaran kali ya.

Buku ini mengisahkan tentang memetika yang berdifusi (ngumpul) dan disebut akalbudi. Analoginya misalkan badan manusia yang terdiri dari tulang kering, daging, kulit,  otot, darah, kalau dibungkus = dinamakan kaki, nah….. memetika itu bagian-bagian dari pikiran yang berdifusi sehingga membentuk akalbudi manusia. Contohnya misalkan minuman Coca-Cola menggunakan slogan “Berpikir Positif !”, kemudian slogan itu ditempel dimana-mana sehingga menyebabkannya menjadi sebuah meme asosiasi yang membuat orang kalau teringat kalimat “berpikir positif” akan teringat pada Coca-Cola. Dan pikiran ini sifatnya menular dari individu ke individu, dimana gabungan-gabungan meme yang ada pada manusia bisa mengakibatkan dampak yang tidak selalu positif, semisal apabila saya ditawari minuman di restoran yang satu warnanya hijau ntah apa dan satulagi hitam bersoda dan kalengnya warna merah, maka saya memiliki kecenderungan untuk memilih yang hitam secara tidak sadar itu karena mirip Coca-Cola. Kalau kita masih memahami mengapa kita bisa memiliki keinginan untuk A atau B, bisa menjelaskan memetika “mengapa”, artinya kita masih dalam posisi mengontrol diri kita. Nah….., buku ini mengajarkan cara kita memahami bahkan mengontrol pikiran kita sehingga bisa memilah-milah mana yang baik untuk kita, mengapa A begitu menarik perhatian dan mengapa B sepertinya malas untuk dikerjakan.

Buku ini cukup lengkap menjelaskan cara bagaimana pikiran kita diprogram secara tidak sadar oleh Virus AkalBudi, memahaminya, dan memberikan tips cara memprogram ulang pikiran kita supaya bisanya tidak ikut-ikutan saja.

Cover :

Buku - Virus AkalBudi

Buku - Virus AkalBudi

Buku ini terjemahan dari Richard Brodie yang berjudul “Virus of The Mind”, merupakan best seller di Amazon, penulisnya merupakan author dari aplikasi Microsoft Word, Chairman-nya Bill Gates, pantas saja bagus.

Buku ini di Gramedia harganya 45 ribuan, tapi kemarin saya beli karena cuci gudang jadi cuman 15 ribu saja, hoki euy :)

Lari dari cobaan

Kemarin sore, tepat jam 14:30 saya turun dari kantor GSJ untuk pulang ke kantor SS1, jadwal mobil shuttle di Chevron saya lihat terpajang di dinding ruangan kerja ada 2 mobil available, dan saya segera meluncur karena takut ketinggalan.

Saya sempat mampir ke tandas sebelum akhirnya sampai di lobby.

Kemudian saya tanyakan ke security lobby apakah Shuttle ke SS1 masih dibawah atau sudah berangkat, dan mereka serempak bilang “sudah…, tadi sudah lewat”, yah………, memang salah saya juga kurang mengambil ancang-ancang lebih awal (sambil memandang jam tangan yang menunjukan pukul 14:40, 10 menit terlambat)

Mau tidak mau saya ke SS1 menggunakan busway, tanpa banyak pikir saya menerima kesalahan, yaaaa memang salah saya koq, saya terima, anggap saja ini pelajaran untuk mengambil ancang-ancang yang tidak terlalu mepet kalau mau naik shuttle, menunggu 5 menit lebih baik daripada ketinggalan……, begitulah omong-omongan yang muter di kepala saya.

……, berangkatlah saya menuju halte busway terdekat.

eeeehh….., diperjalanan menuju ke halte busway, sekononyong-konyong mobil shutte menyalip saya yang sedang berjalan…., HAH !!??, KATANYA SUDAH JALAN ?????, waduh……., gimana sih tu security ???, ah, ga bener nih, !@$@#%^&$^*&%*($%#@$@#

Saya sempat berpikir untuk mengetuk pintu mobil shuttle yang sedang berhenti di lampu merah, jarak antara shuttle dan saya hanya 6 langkah saja…, ya memang saya bisa naik, tapi ini tidak aman dan saya yakin di SOP Chevron hal ini akan menimbulkan pertanyaan berhubungan dengan safety, bukan hanya saya yang akan dipertanyakan, tapi supirnya, dan mungkin penumpang lain juga.

Sepanjang jalan menuju halte busway, di pikiran saya menggerutu kesal……., security sok tahu, inilah, itulah, dari mulai memaki sampai menyumpah berputar di pikiran saya.

Sesampainya di halte busway, saya beli tiket Rp 3.500, masuk, dan mengantri sambil panas-panasan, yang membuat saya lebih menggerutu lagi……., panas, kesal, dan capek.

Oke, marah saya sudah selesai, saya sudah ada di bus, bergelantungan dengan penumpang lain, saat itu penumpangnya tidak padat, tapi tidak ada bangku kosong, saya duduk menghadap kiri, melihat sepanjang jalan Thamrin, Sudirman……..

Di sepanjang jalan Thamrin dan Sudirman, saya lihat jalurnya begitu padat, macet, sementara bus ini kan jalannya khusus, tanpa macet, meski hanya berhenti sebentar-sebentar di tiap halte…., wah……, ada positifnya juga saya naik busway, coba kalau saya tadi naik shuttle, pastinya kejebak macet, membosankan.

Saat itu saya jadi malu hati, saya telah melupakan Tuhan, saya tidak mengira kalau semua cobaan ini sebenarnya baik untuk saya, saya seharusnya merasa beruntung tidak naik Shuttle, ini semua petunjuk yang dibungkus bersama cobaan untuk tidak mengotori pikiran saya dengan gerutuan & makian, merelakan apa yang sudah terjadi, dan berpikir kedepan sajalah.

Saya sempat berpikir kalau saya naik shuttle, apa yang akan terjadi ???, ya palingan saya menggerutu juga karna macet & berpikir kenapa tidak naik busway saja ya……, HahAHahAHahHA !, saya menertawakan diri saya sendiri.

Ini adalah pelajaran, dilain waktu kalau ada kejadian yang tidak menyenangkan lagi, saya seharusnya cenderung untuk berpikir kalau ini adalah petunjuk, cobaan, dan saya harus berpikir positif bahwa Tuhan selalu memberikan jalan terbaik. Dan supaya saya tidak lupa Tuhan, saya menyadari akan pentingnya ber-dzikir, menjaga hati saya supaya tidak kosong, liar mengambang dengan gerutuan-gerutuan yang saya sesalkan sudah mengotori pikiran saya.

note : sebelum membaca tulisan saya yang ini, akan lebih baik kalau baca baca blog saya tentang keajaiban, untuk memahami apa artinya secara ilmiah.

Saya suka menjumpai orang yang menanyakan di pikirannya  “El, apa sih kosmik itu ?”, ya sebenarnya mereka tidak menanyakannya, tapi saya tidak perlu memiliki kemampuan untuk membaca pikiran orang seperti superhero untuk tahu kalau orang itu kebingungan dan malu bertanya apa itu kosmik…  yang ntah malu atau karena takut kelihatan bodoh…. yaaaa apapun alasannya saya akan mencoba menceritakannya di tulisan ini.

Seringkali saya merasa hidup benar beralasan kesalahan, maksudnya saya sering kali salah menindaklanjuti pekerjaan yang sedang dilakukan, tapi entah kenapa malah jadi betul, sehingga orang kadang berpikir kalau saya cukup pintar menyikapi suatu masalah, padahal apa yang saya lakukan sebelumnya merupakan kesalahan beruntung saja. Hal ini bukan hanya berpengaruh pada pandangan orang lain, tetapi juga pandangan terhadap diri sendiri yang sulit untuk mengambil keputusan dilain waktu sehingga saya sering was-was untuk mengambil keputusan benar. Semisal sebelumnya saya mengambil jalan salah yang malah jadi betul, pertanyaannya apakah dikesempatan lain saya harus mengambil jalan yang pada saat itu saya yakini jelas-jelas salah ?, ataukah memutuskan mengerjakan dengan cara yang benar ?

Misal dulu saya pernah mau menjual sebuah produk seharga $25 dan penjualan berlangsung “biasa-biasa saja”. Kemudian saya sempat berpikir untuk menurunkannya menjadi $20 atau $15. Tapi saya salah menaruh angka menjadi $35 karena sudah malam (ngantuk !).

Besoknya, terjual laris manis…..

WHATT ???!!!

dan……..

Kejadian anomali ini seringkali terjadi, membuat pikiran saya berada diantara posisi yang tidak bisa dibilang jenius dan tidak bisa juga dibilang gila. Apa dooong ?

Karena kehabisan akal, saya sempatkan waktu saya membaca kesana-kemari mengenai sifat anomali, kejadian tidak terduga, keanehan, dan akhirnya saya menemukan istilah Kosmik (eng. Cosmic), yang berarti seluruh kejadian di alam semesta ini sesungguhnya berawal dari suatu ledakan besar tidak teratur ke segala arah yang membuat materi ledakan. Intinya filosofi ini memberi analogi bahwa di dunia ini ada hukum yang berlaku dan ada hukum yang terjadi.

Pada awalnya saya menganggap hukum yang berlaku pasti lebih besar daripada hukum yang terjadi, tetapi saya menyadarinya bahwa ini adalah hal yang berbeda meskipun kadang bertemu, contohnya saya suka makanan pedas dan kamu juga suka makanan pedas, saya suka makan gado-gado cabe rawit dan kamu suka makan rendang padang pedas, hal ini tidak memberi kepastian kalau saya makan rendang padang maka saya akan suka hanya karena saya suka makan masakan pedas.

Bisa saja saya berpendapat baru bahwa saya suka makanan pedas kecuali rendang.

…….berubahnya peraturan seiring dengan bergantinya waktu yang telah dilewati = itulah yang disebut “Kosmik”

Menariknya, pengalaman di dunia kosmik telah menciptakan keajaiban, saya seperti memiliki sebuah indra baru yang didalamnya terdifusi (larut) dengan banyak pengalaman kosmik. Membuat saya bisa mengambil keputusan bervisi lain yang orang lain tidak bisa lihat. Rasanya menyenangkan sekali untuk bisa melihat sesuatu yang tidak bisa orang lihat, meskipun kadang rasanya menyebalkan kalau hal itu terjadi berulang-ulang (kecuali ada duitnya :P )