Kedengarannya lucu, tapi kalau mau jujur sih begitulah kenyataannya….
Terus terang, kreatifitas yang saya dapet bisa dibilang 99% turun karena ada masalah orang lain, semisal berbicara mengenai kreatifitas itu sendiri, saya sempet ditanya “kenapa sih orang bisa engga kreatif ?”
Jawabannya tiba-tiba begitu saja ada di kepala…….., kalau orang itu pada awalnya sejak lahir memang sudah punya jiwa kreatif, dengan memiliki opini “wah itu bagus !”, “eh dia cantik yah !”, itu adalah bibit dari kreatifitas .
Masalahnya ketika orang itu bilang “Wah itu bagus !”, disebelahnya ada orang lain yang bilang “Ah Jelek !, Norak !, apaan tuh ??!!!!”, tinggal ke arah mana si orang pertama menarik keputusan tentang objek yang dia lihat, apakah tetap “Wah bagus”, atau ikut-ikutan bilang jelek. Semakin kita membenarkan suara hati kita, dia akan “semakin berbicara”, dan semakin kita men-tidak-setujukan suara hati kira, dia akan “semakin diam”
Hal ini tidak disadari akan membuahkan kesadaran, kalau kita sering meng-IYA-kan hati kita tanpa pertimbangan (tiap nemu yang bagus, peduli setan apa kata orang), nantinya pada suatu waktu kita akan di-cap manusia tidak sopan, tapi kalau kita berusaha untuk bohong dan mengatakan apa yang orang ingin dengar, kita sudah tidak jujur pada diri sendiri. Saya sempat mengambil jalan tengah dengan mengatakan “kalau menurut kamu bagus sih oke, tapi menurut saya kurang oke”, YAP !, problem terselesaikan, tapi apakah kamu bisa menjelaskan sesuatu ini bagus atau jelek pada saat itu kalau ditanya “emang kenapa ?”, terkadang saya sendiri tidak bisa menjelaskan sesuatu itu bagus atau jelek……, bagus ya bagus, jelek ya jelek, itu seperti sebuah cita-rasa, bukan hal yang bisa didefinisikan, analoginya mirip dengan “kenapa kamu suka makan pempek dan batagor ???”, wah bingung jawabnya……., ya suka aja……., akhirnya ya begitulah rata-rata jawaban yang saya kasih ke orang lain (sambil orangnya bilang “wew”, trus ngeloyor pergi…..)
Terhitung udah 10 hari gw freelancing kerja di rumah (baca : semi penggangguran
), “bertapa” untuk meyakinkan bahwa kreativitas adalah jiwa penggerak dari dunia ini, dan keseimbangannya merupakan keberhasilan yang berarti bisa mengatakan pendapat kita, menghormati pendapat orang lain, dan memahami mengapa bisa begitu
Apa-apa yang saya cari tidak pernah ada di buku, siapa yang mau menuliskan kreatifitas di dalam buku, besoknya bisa jadi diklaim……, secara abusive(disalahgunakan), dipatenkan, dibikin supaya UUD (Ujung-Ujunganya DUIT !), saya engga suka hal itu, saya menginginkan kedamaian pikiran, karena menurut saya pikiran terkadang bisa di analogikan seperti benda….., misalnya privasi, semua orang butuh privasi, semua orang punya privasi, masing-masing punya privasi, cobalah untuk mengganti kata “privasi” dengan handphone, kamu akan mengerti kalau pikiran kadang memiliki filosofi yang sama dengan benda, singkatnya : kalo kamu lagi nelpon pake henpon, apa rasanya ketika henpon itu tiba-tiba diambil orang ?, begitulah privasi…….
Kadang saya mikir, emang apa salahnya kalo ujung-ujungnya duit ???, well……, saya belom nemuin alasan yang tepat selain : “kalo saya terkenal, nanti ga bisa lagi nongkrong pake sendal jepit di warteg lagi donk”, terus terang ini alasan yang paling jujur, bener koq (kecuali kata “warteg”-nya) hahahahaha



{ 1 comment… read it below or add one }
UUD = Ujung-Ujungnya DOTA