Saya seringkali melihat orang disekitar saya memahami Agama hanya sebagai ritual, trend, atau bawa’an sejak lahir yang di titah-kan kepada dirinya tanpa adanya keinginan sendiri untuk mengeksplorasi kebenarannya dan beberapa orang berpendapat “semua Agama sama, mengajarkan kebaikan”.
Banyak juga yang menganggap Agama hanya bullshit, sebab tidak bisa dibuktikan secara Ilmiah, misalnya kehidupan setelah mati, mau gimana bukti’innya ?, mati dulu ?
Trus gimana donk ?
Nah…….., saya punya contoh lucu analogi yang mirip dengan hal ini.
Memandang hal ini mirip seperti Pria yang memilih calon Istri untuk dinikahi. Bagaimana Si Pria tahu kalau calon Istrinya perawan ??, dicoba dulu ???, HAH !!???
pastinya ENGGA DONK !
tapi bagamana cara tahunya ?, nah…… disinilah perjalanan seorang manusia yang berawal dari sekedar “percaya” untuk berjuang menemukan “keyakinan”.
Well, kita tidak bisa begitu saja menanyakan “Eh kamu perawan gak ?”, sama seperti orang yang menanyakan “Eh ini Agama bener ga ?”, melainkan kita harus memulai dari informasi terkecil yang ada, seperti siapa orang tuanya, silsilahnya, sekolahnya, kehidupan kesehariannya, temannya, dll. Agama juga sama begitu dimulai dari sejarahnya, pembawanya, konsep ajarannya, dll.
Misalkan si calon Istri hobi-nya clubbing, dugem sampai pagi, suka bercengkrama dengan banyak pria, yaaaaaaa…… bukannya saya men-judge wanita ini sudah tidak perawan lagi, tapi hal ini sudah menurunkan penilaian saya, dan saya akan mencari wanita lain yang lebih baik kredibilitasnya.
Sejujurnya saya tidak bisa menuliskan semua faktor pendukung yang bisa dilakukan untuk menguji apakah seorang wanita perawan atau tidak, menguji apakah suatu Agama benar atau tidak, karena blog saya ini pastinya tidak akan muat untuk menuliskan semua materinya.
Intinya : Jalan hidup setiap manusia berawal dari “Percaya” menuju “Yakin”
Ps.Anda masih ragu ?, apakah anda yakin kalau ibu anda adalah ibu yang melahirkan anda ?, mengapa anda begitu yakin sementara anda tidak pernah menyaksikan anda dilahirkan ? Pastinya anda meyakininya dari aspek informasi yang ada pada diri anda sendiri seperti dagu-nya mirip ibu, matanya mirip ayah, kulitnya sawo matang seperti ibunya, dll. Anda yakin kan ?, atau anda masih ragu ?, masih ragu dengan Agama anda ?, berjuanglah untuk Yakin, tidak hanya sekedar Percaya.


{ 5 comments… read them below or add one }
saya percaya bahwa keyakinan saya dimulai dari kepercayaan saya.
Di, agama adalah sesuatu yang ‘beyond’ percaya dan yakin, yang kita sebut iman. Iman terhadap Allah yang membuat manusia melakukan ‘sweet surrender’, masuk ke dalam penyerahan diri, dan melepaskan semua logika duniawinya, dengan kesatuan pikiran dan perasaan. Iman tak bisa didefinisikan karena memang tidak terdefinisi.
@Pak Rudi
Sebagai anak yang terlahir di keluarga multi fundamental, sangat sulit untuk menetapkan ajaran mana yang bisa menjadi acuan iman. Ada lebih dari 100 ribu agama yang tersebar di dunia ini dimana beberapa bagian termasuk agama “Samawi” (Tuhannya Allah dan manusia pertamanya Adam), selain itu ajarannya macam-macam.
Di umur manusia yang rata-rata sekarang cuman 50-100 tahun, akan menjadi sebuah ketidakmungkinan untuk “nyobain” atau mempelajari semua agama tanpa bantuan Tuhan untuk memanjangkan umur kita terlebih dahulu.
Dan mengenai ‘beyond’ percaya dan yakin yang pak rudi sebut iman untuk melakukan ‘sweet surrender’, memiliki masalah korelasi. Kita tidak bisa hanya menyebut “rasa” yang ada dalam agama sebagai hal yang diberikan Tuhan begitu saja, coba pak rudi perhatikan dalam ajaran agama rata-rata menyebutkan akan memasukan pengikutnya ke surga dan selain pengikut ajaran lain akan dimasukan neraka, saya rasa Tuhan tidak mungkin mengeluarkan statement seperti ini ini atau agamanya sudah disalah tafsirkan.
Trus ?
Saya punya cara mudah untuk memandang ajaran agama, yakni dengan kembali pada proses penciptaan dan melihat kenyataan yang terjadi.
Dulu…… Agama pastinya cuman 1 saja, dan kita berharap agama itu akan tetap 1 sampai akhir zaman, tapi coba bayangkan apabila di dunia ini agama hanya 1, pastinya akan dibutuhkan banyak sekali ketentuan untuk setiap suku bangsa dan pasti kitab sucinya berbentuk buku tebal dengan edisi macam-macam karena setiap suku bangsa punya aturan alam yang berbeda (misalnya perbedaan musim, perbedaan waktu, perbedaan iklim, perbedaan dll).
Analoginya, waktu dulu kaisar cina pusing mengatur bagaimana supaya rakyatnya bisa hidup merata, karena dalam kejadiannya masyarakat cina selalu diombang-ambing oleh trend. Misalnya saat musim ikan semua orang ramai-ramai ke laut, dan saat musim berburu babi semua orang ramai-ramai ke hutan, jadi tidak ada pemerataan. Pada saat itu kaisar cina mencetuskan “Shio” sebagai metode mengatur, ada 12 Shio yang dibuat untuk membuat pemerataan karena diatur oleh waktu kelahiran yang dipercaya memiliki sebaran yang stabil. Pada ajaran Shio itu disebarkan, ada hal yang harus dilakukan seseorang ber Shio macan, ber shio tikus, ber shio ayam, dll. Dan kaisar juga menanamkan aspek negatif apabila seseorang tidak mengikutinya (misalkan kalau shio ayam tahun ini bekerja di laut maka akan menjadi sial), padahal hal itu hanya sebuah pengaturan belaka saja bagi orang awam dan bagi orang alim seharusnya menjadi pengertian bahwa kita sebagai umat manusia harus hidup merata.
Intinya Shio diciptakan sebagai jalan bagi manusia awam dan pemahaman bagi manusia alim bahwa kehidupan era pruralisme manusia harus merata.
Naah, hal ini juga sama dengan Agama, ajaran agama menurut pandangan saya adalah sebuah jalan bagi manusia awam dan menjadi pemahaman bagi manusia alim bahwa jalan manusia tidaklah harus sama melalui 1 jalur agama saja untuk mengenal Tuhan karena memang basicnya saja sudah beda, contoh : akan menjadi kesulitan orang eskimo untuk mempelajari Islam karena waktu disana tidak kongruen untuk shalat 5 waktu. Adapun surga dan neraka yang disebutkan dalam kitab suci merupakan media pengontrol manusia awam agar terus mempelajari agamanya dan tidak berpindah-pindah ke agama lain (supaya belajarnya fokus 1 agama dulu). Mengenai keberadaan Surga dan Neraka, saya bisa bilang itu hanya sebatas kepercayaan, kalau saya sudah memiliki banyak variabel untuk dinilai atau melihatnya secara langsung maka barulah titik keyakinan ada.
Beghicu Pak…
coba baca Anthony de Mello, Awareness, yang universal banget. Di situ kamu akan menemukan makna ‘beyond’ tadi. Atau Conversation with God, yang lumayan universal juga. Atau buku2nya Gde Prama.
Mengenai kalimat “saya rasa Tuhan tidak mungkin mengeluarkan statement seperti ini ini atau agamanya sudah disalah tafsirkan”, itulah bedanya dengan iman. Karena iman tidak mengenal ‘saya rasa’. Iman hanya satu hal: penyerahan diri total, tidak ada percaya, tidak ada yakin, tidak ada rasa, tidak ada kehampaan. Hening.
Ini bukan perdebatan, ini hanya sekadar catatan bahwa di penghujung hidup kita, tidak ada yg perlu dipesoalkan lagi mengenai agama. Hanya keheningan dan kita tak bisa lagi lepas dari penyerahan diri. Iman, hanya satu-satunya yang bisa jadi pegangan.
@Pak Rudi
Menurut pemikiran fundamentalis, keimanan itu berbeda tipis dengan na’if. Penyerahan diri total yang pak Rudi bilang itu tidak menyebutkan perbedaannya, baik iman maupun na’if akan mengakibatkan penyerahan diri total, tidak ada percaya, tidak ada yakin, tidak ada rasa, tidak ada kehampaan dan hening. Kalau menurut pak Rudi, apa bedanya antara iman dan na’if ?