<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
		>
<channel>
	<title>Comments on: Analogi Kepercayaan yang berubah menjadi Keyakinan</title>
	<atom:link href="http://www.munggaran.com/2009/07/29/analogi-kepercayaan-yang-berubah-menjadi-keyakinan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.munggaran.com/2009/07/29/analogi-kepercayaan-yang-berubah-menjadi-keyakinan/</link>
	<description>Big Bang Cosmic Creativity Explosion</description>
	<lastBuildDate>Sun, 29 Aug 2010 14:56:18 +0000</lastBuildDate>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0</generator>
	<item>
		<title>By: eldi</title>
		<link>http://www.munggaran.com/2009/07/29/analogi-kepercayaan-yang-berubah-menjadi-keyakinan/comment-page-1/#comment-384</link>
		<dc:creator>eldi</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 13 Apr 2010 13:57:24 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.munggaran.com/?p=199#comment-384</guid>
		<description>@Pak Rudi
Menurut pemikiran fundamentalis, keimanan itu berbeda tipis dengan na&#039;if. Penyerahan diri total yang pak Rudi bilang itu tidak menyebutkan perbedaannya, baik iman maupun na&#039;if akan mengakibatkan penyerahan diri total, tidak ada percaya, tidak ada yakin, tidak ada rasa, tidak ada kehampaan dan hening. Kalau menurut pak Rudi, apa bedanya antara iman dan na&#039;if ?</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>@Pak Rudi<br />
Menurut pemikiran fundamentalis, keimanan itu berbeda tipis dengan na&#8217;if. Penyerahan diri total yang pak Rudi bilang itu tidak menyebutkan perbedaannya, baik iman maupun na&#8217;if akan mengakibatkan penyerahan diri total, tidak ada percaya, tidak ada yakin, tidak ada rasa, tidak ada kehampaan dan hening. Kalau menurut pak Rudi, apa bedanya antara iman dan na&#8217;if ?</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Rudy Tantra</title>
		<link>http://www.munggaran.com/2009/07/29/analogi-kepercayaan-yang-berubah-menjadi-keyakinan/comment-page-1/#comment-383</link>
		<dc:creator>Rudy Tantra</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 08 Apr 2010 11:26:55 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.munggaran.com/?p=199#comment-383</guid>
		<description>coba baca Anthony de Mello, Awareness, yang universal banget. Di situ kamu akan menemukan makna &#039;beyond&#039; tadi. Atau Conversation with God, yang lumayan universal juga. Atau buku2nya Gde Prama.
Mengenai kalimat &quot;saya rasa Tuhan tidak mungkin mengeluarkan statement seperti ini ini atau agamanya sudah disalah tafsirkan&quot;, itulah bedanya dengan iman. Karena iman tidak mengenal &#039;saya rasa&#039;. Iman hanya satu hal: penyerahan diri total, tidak ada percaya, tidak ada yakin, tidak ada rasa, tidak ada kehampaan. Hening.
Ini bukan perdebatan, ini hanya sekadar catatan bahwa di penghujung hidup kita, tidak ada yg perlu dipesoalkan lagi mengenai agama. Hanya keheningan dan kita tak bisa lagi lepas dari penyerahan diri. Iman, hanya satu-satunya yang bisa jadi pegangan.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>coba baca Anthony de Mello, Awareness, yang universal banget. Di situ kamu akan menemukan makna &#8216;beyond&#8217; tadi. Atau Conversation with God, yang lumayan universal juga. Atau buku2nya Gde Prama.<br />
Mengenai kalimat &#8220;saya rasa Tuhan tidak mungkin mengeluarkan statement seperti ini ini atau agamanya sudah disalah tafsirkan&#8221;, itulah bedanya dengan iman. Karena iman tidak mengenal &#8216;saya rasa&#8217;. Iman hanya satu hal: penyerahan diri total, tidak ada percaya, tidak ada yakin, tidak ada rasa, tidak ada kehampaan. Hening.<br />
Ini bukan perdebatan, ini hanya sekadar catatan bahwa di penghujung hidup kita, tidak ada yg perlu dipesoalkan lagi mengenai agama. Hanya keheningan dan kita tak bisa lagi lepas dari penyerahan diri. Iman, hanya satu-satunya yang bisa jadi pegangan.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: eldi</title>
		<link>http://www.munggaran.com/2009/07/29/analogi-kepercayaan-yang-berubah-menjadi-keyakinan/comment-page-1/#comment-382</link>
		<dc:creator>eldi</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 02 Apr 2010 03:42:50 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.munggaran.com/?p=199#comment-382</guid>
		<description>@Pak Rudi
Sebagai anak yang terlahir di keluarga multi fundamental, sangat sulit untuk menetapkan ajaran mana yang bisa menjadi acuan iman. Ada lebih dari 100 ribu agama yang tersebar di dunia ini dimana beberapa bagian termasuk agama &quot;Samawi&quot; (Tuhannya Allah dan manusia pertamanya Adam), selain itu ajarannya macam-macam.

Di umur manusia yang rata-rata sekarang cuman 50-100 tahun, akan menjadi sebuah ketidakmungkinan untuk &quot;nyobain&quot; atau mempelajari semua agama tanpa bantuan Tuhan untuk memanjangkan umur kita terlebih dahulu.

Dan mengenai &#039;beyond&#039; percaya dan yakin yang pak rudi sebut iman untuk melakukan &#039;sweet surrender&#039;, memiliki masalah korelasi. Kita tidak bisa hanya menyebut &quot;rasa&quot; yang ada dalam agama sebagai hal yang diberikan Tuhan begitu saja, coba pak rudi perhatikan dalam ajaran agama rata-rata menyebutkan akan memasukan pengikutnya ke surga dan selain pengikut ajaran lain akan dimasukan neraka, saya rasa Tuhan tidak mungkin mengeluarkan statement seperti ini ini atau agamanya sudah disalah tafsirkan.

Trus  ?

Saya punya cara mudah untuk memandang ajaran agama, yakni dengan kembali pada proses penciptaan dan melihat kenyataan yang terjadi.

Dulu...... Agama pastinya cuman 1 saja, dan kita berharap agama itu akan tetap 1 sampai akhir zaman, tapi coba bayangkan apabila di dunia ini agama hanya 1, pastinya akan dibutuhkan banyak sekali ketentuan untuk setiap suku bangsa dan pasti kitab sucinya berbentuk buku tebal dengan edisi macam-macam karena setiap suku bangsa punya aturan alam yang berbeda (misalnya perbedaan musim, perbedaan waktu, perbedaan iklim, perbedaan dll). 

Analoginya, waktu dulu kaisar cina pusing mengatur bagaimana supaya rakyatnya bisa hidup merata, karena dalam kejadiannya masyarakat cina selalu diombang-ambing oleh trend. Misalnya saat musim ikan semua orang ramai-ramai ke laut, dan saat musim berburu babi semua orang ramai-ramai ke hutan, jadi tidak ada pemerataan. Pada saat itu kaisar cina mencetuskan &quot;Shio&quot; sebagai metode mengatur, ada 12 Shio yang dibuat untuk membuat pemerataan karena diatur oleh waktu kelahiran yang dipercaya memiliki sebaran yang stabil. Pada ajaran Shio itu disebarkan, ada hal yang harus dilakukan seseorang ber Shio macan, ber shio tikus, ber shio ayam, dll. Dan kaisar juga menanamkan aspek negatif apabila seseorang tidak mengikutinya (misalkan kalau shio ayam tahun ini bekerja di laut maka akan menjadi sial), padahal hal itu  hanya sebuah pengaturan belaka saja bagi orang awam dan bagi orang alim seharusnya menjadi pengertian bahwa kita sebagai umat manusia harus hidup merata. 

Intinya Shio diciptakan sebagai jalan bagi manusia awam dan pemahaman bagi manusia alim bahwa kehidupan era pruralisme manusia harus merata.

Naah, hal ini juga sama dengan Agama, ajaran agama menurut pandangan saya adalah sebuah jalan bagi manusia awam dan menjadi pemahaman bagi manusia alim bahwa jalan manusia tidaklah harus sama melalui 1 jalur agama saja untuk mengenal Tuhan karena memang basicnya saja sudah beda, contoh : akan menjadi kesulitan orang eskimo untuk mempelajari Islam karena waktu disana tidak kongruen untuk shalat 5 waktu. Adapun surga dan neraka yang disebutkan dalam kitab suci merupakan media pengontrol manusia awam agar terus mempelajari agamanya dan tidak berpindah-pindah ke agama lain (supaya belajarnya fokus 1 agama dulu). Mengenai keberadaan Surga dan Neraka, saya bisa bilang itu hanya sebatas kepercayaan, kalau saya sudah memiliki banyak variabel untuk dinilai atau melihatnya secara langsung maka barulah titik keyakinan ada.

Beghicu Pak... :)</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>@Pak Rudi<br />
Sebagai anak yang terlahir di keluarga multi fundamental, sangat sulit untuk menetapkan ajaran mana yang bisa menjadi acuan iman. Ada lebih dari 100 ribu agama yang tersebar di dunia ini dimana beberapa bagian termasuk agama &#8220;Samawi&#8221; (Tuhannya Allah dan manusia pertamanya Adam), selain itu ajarannya macam-macam.</p>
<p>Di umur manusia yang rata-rata sekarang cuman 50-100 tahun, akan menjadi sebuah ketidakmungkinan untuk &#8220;nyobain&#8221; atau mempelajari semua agama tanpa bantuan Tuhan untuk memanjangkan umur kita terlebih dahulu.</p>
<p>Dan mengenai &#8216;beyond&#8217; percaya dan yakin yang pak rudi sebut iman untuk melakukan &#8216;sweet surrender&#8217;, memiliki masalah korelasi. Kita tidak bisa hanya menyebut &#8220;rasa&#8221; yang ada dalam agama sebagai hal yang diberikan Tuhan begitu saja, coba pak rudi perhatikan dalam ajaran agama rata-rata menyebutkan akan memasukan pengikutnya ke surga dan selain pengikut ajaran lain akan dimasukan neraka, saya rasa Tuhan tidak mungkin mengeluarkan statement seperti ini ini atau agamanya sudah disalah tafsirkan.</p>
<p>Trus  ?</p>
<p>Saya punya cara mudah untuk memandang ajaran agama, yakni dengan kembali pada proses penciptaan dan melihat kenyataan yang terjadi.</p>
<p>Dulu&#8230;&#8230; Agama pastinya cuman 1 saja, dan kita berharap agama itu akan tetap 1 sampai akhir zaman, tapi coba bayangkan apabila di dunia ini agama hanya 1, pastinya akan dibutuhkan banyak sekali ketentuan untuk setiap suku bangsa dan pasti kitab sucinya berbentuk buku tebal dengan edisi macam-macam karena setiap suku bangsa punya aturan alam yang berbeda (misalnya perbedaan musim, perbedaan waktu, perbedaan iklim, perbedaan dll). </p>
<p>Analoginya, waktu dulu kaisar cina pusing mengatur bagaimana supaya rakyatnya bisa hidup merata, karena dalam kejadiannya masyarakat cina selalu diombang-ambing oleh trend. Misalnya saat musim ikan semua orang ramai-ramai ke laut, dan saat musim berburu babi semua orang ramai-ramai ke hutan, jadi tidak ada pemerataan. Pada saat itu kaisar cina mencetuskan &#8220;Shio&#8221; sebagai metode mengatur, ada 12 Shio yang dibuat untuk membuat pemerataan karena diatur oleh waktu kelahiran yang dipercaya memiliki sebaran yang stabil. Pada ajaran Shio itu disebarkan, ada hal yang harus dilakukan seseorang ber Shio macan, ber shio tikus, ber shio ayam, dll. Dan kaisar juga menanamkan aspek negatif apabila seseorang tidak mengikutinya (misalkan kalau shio ayam tahun ini bekerja di laut maka akan menjadi sial), padahal hal itu  hanya sebuah pengaturan belaka saja bagi orang awam dan bagi orang alim seharusnya menjadi pengertian bahwa kita sebagai umat manusia harus hidup merata. </p>
<p>Intinya Shio diciptakan sebagai jalan bagi manusia awam dan pemahaman bagi manusia alim bahwa kehidupan era pruralisme manusia harus merata.</p>
<p>Naah, hal ini juga sama dengan Agama, ajaran agama menurut pandangan saya adalah sebuah jalan bagi manusia awam dan menjadi pemahaman bagi manusia alim bahwa jalan manusia tidaklah harus sama melalui 1 jalur agama saja untuk mengenal Tuhan karena memang basicnya saja sudah beda, contoh : akan menjadi kesulitan orang eskimo untuk mempelajari Islam karena waktu disana tidak kongruen untuk shalat 5 waktu. Adapun surga dan neraka yang disebutkan dalam kitab suci merupakan media pengontrol manusia awam agar terus mempelajari agamanya dan tidak berpindah-pindah ke agama lain (supaya belajarnya fokus 1 agama dulu). Mengenai keberadaan Surga dan Neraka, saya bisa bilang itu hanya sebatas kepercayaan, kalau saya sudah memiliki banyak variabel untuk dinilai atau melihatnya secara langsung maka barulah titik keyakinan ada.</p>
<p>Beghicu Pak&#8230; <img src='http://www.munggaran.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Rudy Tantra</title>
		<link>http://www.munggaran.com/2009/07/29/analogi-kepercayaan-yang-berubah-menjadi-keyakinan/comment-page-1/#comment-381</link>
		<dc:creator>Rudy Tantra</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 02 Apr 2010 00:30:09 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.munggaran.com/?p=199#comment-381</guid>
		<description>Di, agama adalah sesuatu yang &#039;beyond&#039; percaya dan yakin, yang kita sebut iman. Iman terhadap Allah yang membuat manusia melakukan &#039;sweet surrender&#039;, masuk ke dalam penyerahan diri, dan melepaskan semua logika duniawinya, dengan kesatuan pikiran dan perasaan. Iman tak bisa didefinisikan karena memang tidak terdefinisi.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Di, agama adalah sesuatu yang &#8216;beyond&#8217; percaya dan yakin, yang kita sebut iman. Iman terhadap Allah yang membuat manusia melakukan &#8216;sweet surrender&#8217;, masuk ke dalam penyerahan diri, dan melepaskan semua logika duniawinya, dengan kesatuan pikiran dan perasaan. Iman tak bisa didefinisikan karena memang tidak terdefinisi.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: neng oCHa</title>
		<link>http://www.munggaran.com/2009/07/29/analogi-kepercayaan-yang-berubah-menjadi-keyakinan/comment-page-1/#comment-357</link>
		<dc:creator>neng oCHa</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 12 Aug 2009 18:28:51 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.munggaran.com/?p=199#comment-357</guid>
		<description>saya percaya bahwa keyakinan saya dimulai dari kepercayaan saya.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>saya percaya bahwa keyakinan saya dimulai dari kepercayaan saya.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
