Jasa pelayanan gratis ber-Internet seperti Yahoo, Google, Microsoft yang menyediakan berbagai fasilitas seperti messaging, email, blog, video, sampai penyimpanan dokumen, dan konten lainnya sudah menjadi hal umum di masyarakat sekarang. Tapi ada apa sebenarnya dibalik itu semua ?
Kenapa sih bisa gratis ?
Ada beberapa alasan mengapa penyedia jasa memberikan jasanya secara gratisan, beberapa diantaranya:
- mengambil pendapat dari media iklan
ini sudah umum, dilakukan google, facebook, detik.com dll - jasa untuk corporate
pengguna kantoran harus bayar, pribadi tidak bayar, contoh: google site - exit strategy
bikin dulu sampai terkenal, setelah terkenal ditawarkan untuk dijual/diakusisi ke pihak lain, supaya bisa dipakai untuk mendapatkan traffic yang ujung-ujungnya duit juga, contoh : youtube (sudah diakusisi google), meebo (kasian blom laku, hehehe) - business intelligence
misal ada seorang sutradara ingin membuat sebuah film tapi sebelumnya dia ingin mengetahui jenis film yang sedang digandrungi masyarakat melalui informasi yang bisa diambil dari statistik video yang banyak digandrungi di youtube sehingga sutradara tersebut merasa lebih yakin kalau film action lah yang sedang digandrungi - jualan informasi
di US ada beberapa website yang menyediakan layanan premium berbayar untuk membaca berita-berita top - ……dan masih banyak lagi (cari sendiri yah)
Pada artikel ini saya akan menitik-beratkan pada jasa yang mengambil keuntungan dari jejaring sosial seperti facebook, friendster, multiply, dll.
Daftar gratis, bisa cari teman gratis, bisa chating gratis, bisa taruh album foto gratis, begitulah trend sekarang.
ya ya ya, lalu ?
Pernahkah terpikirkan akan adanya jejaring sosial bersistem syari’ah / bagi hasil ?
Keuntungan yang diraup facebook, friendster dan situs jejaring sosial lainnya memungkinkan untuk membuat penggunanya semakin tertarik dengan adanya sistem affiliasi (dapet duit kalau profile atau tulisannya banyak diliat orang), atau bisa saja terang-terangan berlaku seperti google adsense, user akan mendapatkan bagi hasil dari keuntungan iklan.
Menurut opini saya, situs yang memulai mengusung sistem jejaring bermodel syari’ah ini akan sangat memukul mundur pesaingnya, siapa sih yang gak mau duit ?
So ?, social network berbasis syari’ah (bagi hasil), sampai disini saja kah ?, kemudian apa lagi ?
belum…….
biasanya para penyedia jasa selalu bersikap tamak inovatif mengembangkan aplikasinya, seperti google yang dimulai dari mesin pencari, merambah ke email, messaging gtalk, dan sekarang mulai meraba ke social networking.
Saya optimis bahwa sebuah penyedia jasa nanti akan memiliki sebuah paket lengkap atas seseorang (daftar sekali => terdaftar semua), ya ini sih sekarang juga sebagian sudah berjalan seperti yahoo (messenger+mail+groups+flickr, dll), tapi di masa depan nanti akan ada suatu tatanan umum account seperti layaknya operator telepon di Indonesia yang bisa berkirim sms lintas operator (kapan ya kita bisa ngirim message lintas social network? hahaha….), dan terlebih lagi mungkin operator telekomunikasi akan dibeli/diakusisi sehingga menjadi sebuah paket perangkat telepon + social network (telepon, messaging, kalender, GPS, storage, dll) dalam satu alat.
Akhir cerita saya yang nerawang ini, teknologi informasi berakhir pada titik kedewasaannya dimana teknologi bisa membiayai dirinya sendiri, maksud saya orang tidak perlu membayar sepeserpun untuk sebuah perangkat karena dengan menggunakannya berarti sudah menghasilkan uang dari iklan yang bisa dipakai untuk membayar biaya operasionalnya sendiri.
Tapi bagaimana dengan produk-produk inovatif yang terus berkembang tanpa batas?, misalnya game atau aplikasi perkantoran yang tadinya harus berbayar, apakah akan disapu juga dengan model sistem informasi berbasis syari’ah ini juga?
Sampai saat ini saya masih belum punya bayangan di masa depan nanti dan bertanya-tanya : “produk IT apakah yang nanti akan diperjual-belikan di masyarakat serba gratis ini?

